diciptakan air mata pada hati yang gelisah
agar terdiam jiwa yang tak tenang
sehingga tersadar dalam keheningan
bahwa hidup tak akan dibiarkan sendiri
mengendap halus tanpa lelah
membantu perjalanan untuk kembali
diciptakan air mata pada hati yang gelisah
agar terdiam jiwa yang tak tenang
sehingga tersadar dalam keheningan
bahwa hidup tak akan dibiarkan sendiri
Sekarang sudah malam….
Saatnya untuk melepaskan perjuangan tadi siang
Tak perlu aku mengingat betapa perkasanya aku hari ini
Penaklukan-penaklukan sekedar perjuangan….
Sekarang sudah malam…
Saatnya bersiap-siap bertemu dengan esok yang berbeda
Tak perlu membawa kemenangan hari ini
karena besok tangisan akan menanti…
Sekarang sudah malam…
Betapapun gelapnya malam ini
jangan percaya pada bisikan angin
“…teramat gelap hingga matahari esokpun tak kan sanggup mengusir pekatnya”
Legok, 3 Juni 2005
ramadhan usai malam ini
dan takbir yang menggema
adalah pesta perpisahannya
aku tak bisa menangis
selayaknya orang shaleh
meski ku perintahkan mata
air tak juga meleleh
ya sudahlah,
aku bersyukur saja
dengan apa yang kudapat
dalam ramadhan yang sekilas
aku bersyukur mengenalmu
di malam itu, di mesjid itu
karenanya,
jiwaku yang berpuisi
yang lama lenyap
kembali
tapi kini ia berbeda,
ia tak lagi ajak aku hayati kesedihan
ia minta aku susun siasat
agar hidup lebih bertenaga
akhirnya, ia katakan
“aku datang bukan untuk puisi,
aku datang agar bisa kau rasakan
bahwa hidupmu sangat menakjubkan
sehingga nanti,
kau tak lagi bisa menuliskannya
dalam penjara syair yang sempit”
(1 Syawal 1428 H)
Puisi untuk Ima
ini adalah bunga-bunga ibuku
yang ia pelihara dalam cinta
sehingga indah mekarnya
dan semerbak harumnya
bunga-bunga itu hidup
oleh sepasang tangan
yang dulu suapi aku
yang dulu belai aku
yang buat tenang jiwaku
bunga-bunga itu kakakku
karena mereka lebih dahulu indah
sedang aku masih kuncup yang belumlah mekar
namun ibuku tak pernah berhenti berharap
suatu saat aku akan seindah bunga-bunganya
Jakarta, 24 Oktober 2007
pada tanah yang bersungai cinta
dalam hari yang fajarnya abadi
di situ aku tiba-tiba berada
waktu kupandangi wajahmu
Pada musim yang tak lagi bernama
Karena sudah tak hiraukan waktu
Untuk terik atau derasnya hujan
Kita bangun sebuah rumah
Di tepi danau yang tak pernah kering
Oleh musim yang sungguh egois
Di dalamnya kita bersama merajut berkah
Dengan sabar dan teliti mencari makna
Hingga musim itu kembali bernama
Jakarta, Juni 2008
untuk undangan pernikahanku
batang bunga itu melengkung
meski bukan milikku
tapi lengkung batangnya yang berbunga
menghiasi dan mengharumi halaman rumahku
orang-orang berdatangan dan memuji
“ah, indah nian kebunmu ini.
pasti engkau orang yang berbahagia.”
“kamu salah.
aku berbahagia karena aku sadar dengan apa yang kumiliki.
aku sadar, bunga itu tidak berakar di sini, di tanahku.”
Sleman, Mei 2000
sekali lagi Kau uji aku
tapi kusambut ujian itu dengan mata berkerut
dengan mulut yang sengaja kukunci
agar tak bisa tersenyum
kapan aku bisa menyambut ujianmu dengan senang
bagaikan mendapat mobil tumpangan
yang bisa antarkan aku ke rumah-Mu yang damai
sehingga tak perlu aku bermuka masam
tak perlu lagi ada prasangka
dan juga aku tak perlu salahkan sahabatku
Sleman, 2 Januari 2000
hanya saja aku tidak pernah menang
selalu aku yang harus mencari
sampai suatu ketika aku di sini
dalam kesederhanaan
dalam bau comberan
dalam panas
dalam gigitan nyamuk
dalam lelah
dalam cemas
dalam sindiran
dalam wc umum yang berdinding seng
dalam pesawat tv yang gambarnya tinggal separo
dan tentu dalam alunan shalawat Ida Laila
rasanya aku mulai bisa menebak
di mana Kamu berada
walau aku tahu aku tak pernah menang
dan terus mencari
Surabaya, Mei 2000
kau paksa aku untuk menyerah
namun aku masih ingat,
betapa mengerikannya
jika aku menyerah padamu
Sleman, 2000