DALAM PUISI ADA SEJARAH

Oktober 3, 2011

Pengantar Tidur Anakku

Filed under: puisi — Agung Krisnanto @ 3:35 am

 

 

 

Kamu tersenyum
Beberapa saat setelah tertidur
Sepertinya ada seseorang di sana
Pada batas kesadaranmu
 
Mungkin itu adalah orang yang sama
Dengan yang ayahmu lihat
Waktu aku masih seumurmu,
Di sebuah rentang waktu kemurnian
 
Aku terus mengusap punggungmu
Sampai kamu benar tertidur
Ini tugas ayahmu, Nak
Mengantarmu pada genggaman Illahi
 
Hanya usapan yang aku tahu
Untuk mengantarmu ke sana
Ayahmu ini terlalu berat kakinya
Untuk terbang bersamamu

 

Juni 29, 2010

Ku Luruskan Jalan Puisiku

Filed under: puisi — Agung Krisnanto @ 8:47 am

Aku tidak akan menyalahgunakan puisi
hanya untuk tayangkan kesedihan

Asal kau tahu saja,
Tandon puisi telah penuh dengan air mata

Akan aku luruskan jalan puisiku
Agar langsung menuju cahaya

Desember 5, 2008

diciptakan air mata

Filed under: Uncategorized — Agung Krisnanto @ 7:17 am
Tags:

diciptakan air mata pada hati yang gelisah
agar terdiam jiwa yang tak tenang
sehingga tersadar dalam keheningan
bahwa hidup tak akan dibiarkan sendiri

karena
selalu ada gerak Illahi dalam diri 
mengendap halus tanpa lelah
membantu perjalanan untuk kembali 

November 26, 2008

Sekarang Sudah Malam

Filed under: puisi — Agung Krisnanto @ 4:04 pm
Tags:

Sekarang sudah malam….

Saatnya untuk melepaskan perjuangan tadi siang
Tak perlu aku mengingat betapa perkasanya aku hari ini
Penaklukan-penaklukan sekedar perjuangan….

Sekarang sudah malam…

Saatnya bersiap-siap bertemu dengan esok yang berbeda
Tak perlu membawa kemenangan hari ini
karena besok tangisan akan menanti…

Sekarang sudah malam…

Betapapun gelapnya malam ini
jangan percaya pada bisikan angin
“…teramat gelap hingga matahari esokpun tak kan sanggup mengusir pekatnya”

Legok, 3 Juni 2005

November 21, 2008

Ramadhan Usai Malam Ini

Filed under: puisi — Agung Krisnanto @ 4:33 am
Tags:

ramadhan usai malam ini

dan takbir yang menggema

adalah pesta perpisahannya

 

aku tak bisa menangis

selayaknya orang shaleh

meski ku perintahkan mata

air tak juga meleleh

 

ya sudahlah,

aku bersyukur saja

dengan apa yang kudapat

dalam ramadhan yang sekilas

 

aku bersyukur mengenalmu

di malam itu, di mesjid itu

karenanya,

jiwaku yang berpuisi

yang lama lenyap

kembali

 

tapi kini ia berbeda,

ia tak lagi ajak aku hayati kesedihan

ia minta aku susun siasat

agar hidup lebih bertenaga

 

akhirnya, ia katakan

“aku datang bukan untuk puisi,

aku datang agar bisa kau rasakan

bahwa hidupmu sangat menakjubkan

sehingga nanti,

kau tak lagi bisa menuliskannya

dalam penjara syair yang sempit”

 

(1 Syawal 1428 H)

Puisi untuk Ima

My Mom’s Flower

Filed under: puisi — Agung Krisnanto @ 4:15 am
Tags:

ini adalah bunga-bunga ibuku

yang ia pelihara dalam cinta

sehingga indah mekarnya

dan semerbak harumnya

 

bunga-bunga itu hidup

oleh sepasang tangan

yang dulu suapi aku

yang dulu belai aku

yang buat tenang jiwaku

 

bunga-bunga itu kakakku

karena mereka lebih dahulu indah

sedang aku masih kuncup yang belumlah mekar

namun ibuku tak pernah berhenti berharap

suatu saat aku akan seindah bunga-bunganya

 

Jakarta, 24 Oktober 2007

Pada Tanah Yang Bersungai Cinta

Filed under: puisi — Agung Krisnanto @ 4:10 am
Tags:

pada tanah yang bersungai cinta
dalam hari yang fajarnya abadi

di situ aku tiba-tiba berada
waktu kupandangi wajahmu

November 20, 2008

Musim Yang Kembali Bernama

Filed under: puisi — Agung Krisnanto @ 1:15 am
Tags:

Pada musim yang tak lagi bernama

Karena sudah tak hiraukan waktu 

Untuk terik atau derasnya hujan 

 

Kita bangun sebuah rumah 

Di tepi danau yang tak pernah kering 

Oleh musim yang sungguh egois 

 

Di dalamnya kita bersama merajut berkah 

Dengan sabar dan teliti mencari makna 

Hingga musim itu kembali bernama

 

Jakarta, Juni 2008

untuk undangan pernikahanku

November 24, 2007

Batang Bunga Yang Melengkung

Filed under: puisi — Agung Krisnanto @ 1:11 am
Tags:

batang bunga itu melengkung
meski bukan milikku
tapi lengkung batangnya yang berbunga
menghiasi dan mengharumi halaman rumahku

orang-orang berdatangan dan memuji
“ah, indah nian kebunmu ini.
pasti engkau orang yang berbahagia.”

“kamu salah.
aku berbahagia karena aku sadar dengan apa yang kumiliki.
aku sadar, bunga itu tidak berakar di sini, di tanahku.”

Sleman, Mei 2000

Tersenyum Sajalah

Filed under: puisi — Agung Krisnanto @ 1:07 am
Tags:

sekali lagi Kau uji aku
tapi kusambut ujian itu dengan mata berkerut
dengan mulut yang sengaja kukunci
agar tak bisa tersenyum

kapan aku bisa menyambut ujianmu dengan senang
bagaikan mendapat mobil tumpangan
yang bisa antarkan aku ke rumah-Mu yang damai

sehingga tak perlu aku bermuka masam
tak perlu lagi ada prasangka
dan juga aku tak perlu salahkan sahabatku

Sleman, 2 Januari 2000

Halaman Berikutnya »

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.