Pada musim yang tak lagi bernama
Karena sudah tak hiraukan waktu
Untuk terik atau derasnya hujan
Kita bangun sebuah rumah
Di tepi danau yang tak pernah kering
Oleh musim yang sungguh egois
Di dalamnya kita bersama merajut berkah
Dengan sabar dan teliti mencari makna
Hingga musim itu kembali bernama
Jakarta, Juni 2008
untuk undangan pernikahanku