ramadhan usai malam ini
dan takbir yang menggema
adalah pesta perpisahannya
aku tak bisa menangis
selayaknya orang shaleh
meski ku perintahkan mata
air tak juga meleleh
ya sudahlah,
aku bersyukur saja
dengan apa yang kudapat
dalam ramadhan yang sekilas
aku bersyukur mengenalmu
di malam itu, di mesjid itu
karenanya,
jiwaku yang berpuisi
yang lama lenyap
kembali
tapi kini ia berbeda,
ia tak lagi ajak aku hayati kesedihan
ia minta aku susun siasat
agar hidup lebih bertenaga
akhirnya, ia katakan
“aku datang bukan untuk puisi,
aku datang agar bisa kau rasakan
bahwa hidupmu sangat menakjubkan
sehingga nanti,
kau tak lagi bisa menuliskannya
dalam penjara syair yang sempit”
(1 Syawal 1428 H)
Puisi untuk Ima