Ketika aku melihat rumah itu
Aku bertanya,”Mungkinkah puisi tercipta di tempat seperti ini?”
Namun kuikuti saja langkah kaki
yang membuatku semakin dekat
dan semakin dekat
Sampai ada yang berbisik padaku
,”Mungkinkah kau tanggalkan baju kesombonganmu?”
Sleman, 13 Januari 2000
Betapa tak sopannya dirimu
Kau minta agar hujan berhenti
Padahal,
Hujan adalah persenggamaan antara langit dan bumi
agar muncul darinya berbagai aneka kehidupan
agar wajah bumi kembali segar merekah
tebarkan pesona yang lebih dahsyat
Sleman, 31 Oktober 2000
Tolong,
sampaikan salamku pada dukamu
dan katakan padanya
jika ia selalu bersamamu
maka akupun cemburu
Sleman, 5 Maret 1999
Kalau kau dengar nyanyian burung di pagi hari
siapa sangka kalau tadi malam
badai bergulung-gulung penuh amarah
sehingga tercerabutlah berbagai nyawa kehidupan
Tapi kalau kau dengar nyanyian burung itu
Apakah kau rasakan lirik yang penuh dendam?
Apakah kau rasakan hentakan yang penuh kemarahan?
Sedang baru saja kematian mengelilingi mereka
Dan kicau burung terus berbunyi
karena episode kesedihan seharusnya tak terlalu lama
yang penting sekarang
hangatnya sinar matahari
dan daun-daun basah yang menyejukkan
Sleman, 22 Oktober 2000
otakku lumpuh
karena mulutmu
sedang mulutmu trocoh
karena kau pikir
otakku lumpuh
Sleman, 30 Desember 1999
Perapian padam
dengan penuh keputusasaan
karena tak sanggup hangatkan
kebekuan yang ada
Gerombolan burungpun kini terkulai lemas
setelah sekian lama mencoba
menaklukkan kesunyian yang begitu luas
Sleman, diantara 1997-1998
Tahukah kau,
apa yang dikatakan mentari pada padang pasir yang sunyi?
“Sesungguhnya tak ada niatan bagiku
untuk membuatmu sendiri”
Mengertikah kamu,
apa yang dibisikkan angin kepada rerumputan dan ilalang?
“Aku hanya ingin membelaimu,
dan maafkan aku jika terkadang terlalu keras menamparmu”
Baik rumput ilalang dan padang pasir tersenyum dan berkata
“Apakah kau pikir kami ini manusia?”
Sleman, 1 September 1997
sudah berulang kali,
pisau itu menggores batang kesadaran pohon karet
hingga getahpun mengalir begitu saja
tak tertahankan, menuju rerumputan
yang berpikir hujan sudah berubah
menjadi putih pekat
Sleman, 21 Januari 1997
yang ku khawatirkan adalah sendiri
menjalani masa tua sebagai lelaki renta
dalam sepetak rumah kosong
berteman cerita-cerita dari masa silam
sambil tangan mengurut dada
karena batuk yang menahun
(terima kasih imma, akhirnya yg aku khawatirkan tidak akan terjadi, insya Allah)